Societeit Concordia (sekarang Panti Wangka) adalah gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda di Pangkalpinang, terletak di kawasan “civic centre”, atau berada pada bagian dari wilayah kota yang secara spasial menjadi pusat berbagai macam kegiatan masyarakat penghuninya (Kostov, 1992:80-81). Gedung Societeit Concordia didirikan pada masa residen Bangka, A.J.N. Engelenberg (memerintah pada tahun 1913-1918 Masehi), ketika ibukota keresidenan Bangka mulai dipindahkan dari Kota Muntok ke Kota Pangkalpinang pada tanggal 3 September 1913 Masehi. Gedung Societeit Concordia secara geografis terletak di sisi Utara resident straat (sekarang jalan Merdeka) dan berada pada sisi sebelah Barat Wilhelmina Park (sekarang Tamansari).
Akhmad Elvian
Rabu, 19 Oktober 2016
Dulu Societeit Concordia (sekarang Panti Wangka)
Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang
Rabu, 12 Oktober 2016
Perkataan Yang Mulia
Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang
Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang berkembang dari Bahasa Melayu dan Bahasa Melayu berkembang dari Bahasa Melayu Kuno seperti bahasa yang ditulis pada 10 baris isi prasasti Kotakapur. Prasasti Kotakapur ditulis dengan menggunakan hurup Pallawa berangka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi. Penggunaan bahasa Melayu Kuno pada prasasti Kotakapur, menunjukkan bahwa pada sekitar abad 7 Masehi di pulau Bangka telah ada dan berkembang Bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa pengantar, sebab tidak mungkin prasasti sebagai peringatan, kutukan, perlindungan dan ancaman atau sebagai konstitusi (undang-undang) dibuat kalau tidak dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat setempat pada masa itu.
Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang berkembang dari Bahasa Melayu dan Bahasa Melayu berkembang dari Bahasa Melayu Kuno seperti bahasa yang ditulis pada 10 baris isi prasasti Kotakapur. Prasasti Kotakapur ditulis dengan menggunakan hurup Pallawa berangka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi. Penggunaan bahasa Melayu Kuno pada prasasti Kotakapur, menunjukkan bahwa pada sekitar abad 7 Masehi di pulau Bangka telah ada dan berkembang Bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa pengantar, sebab tidak mungkin prasasti sebagai peringatan, kutukan, perlindungan dan ancaman atau sebagai konstitusi (undang-undang) dibuat kalau tidak dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat setempat pada masa itu.
Watertoren di Kampung Bukit
Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang
Pada
masa atau priode kolonial-gemeente,
perkembangan keberadaan pemukiman masyarakat di distrik Pangkalpinang,
terkonsentrasi di kiri dan kanan jalan karena proses pembentukan
kampung-kampung oleh kolonial Belanda setelah perang rakyat Bangka dipimpin
oleh Depati Amir (tahun 1848-1851 Masehi).
Jika
catatan sejarah pada tahun 1850 Masehi menunjukkan sedikit dan jarang
terdapatnya kampung di pulau Bangka, maka pada tahun 1851 Masehi tercatat
pembentukan kampung baru hingga mencapai 232 kampung, termasuk kampung-kampung
baru yang dibangun di jalan-jalan setapak di Distrik Pangkalpinang dan
Langganan:
Postingan (Atom)