Rabu, 19 Oktober 2016

Dulu Societeit Concordia (sekarang Panti Wangka)

Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang

Societeit Concordia (sekarang Panti Wangka) adalah gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda di Pangkalpinang, terletak di kawasan “civic centre”, atau berada pada bagian dari wilayah kota yang secara spasial menjadi pusat berbagai macam kegiatan masyarakat penghuninya (Kostov, 1992:80-81). Gedung Societeit Concordia didirikan pada masa residen Bangka, A.J.N. Engelenberg (memerintah pada tahun 1913-1918 Masehi), ketika ibukota keresidenan Bangka mulai dipindahkan dari Kota Muntok ke Kota Pangkalpinang pada tanggal 3 September 1913 Masehi. Gedung Societeit Concordia secara geografis terletak di sisi Utara resident straat (sekarang jalan Merdeka) dan berada pada sisi sebelah Barat Wilhelmina Park (sekarang Tamansari).

Rabu, 12 Oktober 2016

Perkataan Yang Mulia

Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang

Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang berkembang dari Bahasa Melayu dan Bahasa Melayu berkembang dari Bahasa Melayu Kuno seperti bahasa yang ditulis pada 10 baris isi prasasti Kotakapur. Prasasti Kotakapur ditulis dengan menggunakan hurup Pallawa berangka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi. Penggunaan bahasa Melayu Kuno pada prasasti Kotakapur, menunjukkan bahwa pada sekitar abad 7 Masehi di pulau Bangka telah ada dan berkembang Bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa pengantar, sebab tidak mungkin prasasti sebagai peringatan, kutukan, perlindungan dan ancaman atau sebagai konstitusi (undang-undang) dibuat kalau tidak dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat setempat pada masa itu.

Watertoren di Kampung Bukit

Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang

Pada masa atau priode kolonial-gemeente, perkembangan keberadaan pemukiman masyarakat di distrik Pangkalpinang, terkonsentrasi di kiri dan kanan jalan karena proses pembentukan kampung-kampung oleh kolonial Belanda setelah perang rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Amir (tahun 1848-1851 Masehi).

Jika catatan sejarah pada tahun 1850 Masehi menunjukkan sedikit dan jarang terdapatnya kampung di pulau Bangka, maka pada tahun 1851 Masehi tercatat pembentukan kampung baru hingga mencapai 232 kampung, termasuk kampung-kampung baru yang dibangun di jalan-jalan setapak di Distrik Pangkalpinang dan

Selasa, 11 Oktober 2016

Sejarah Makam Tua Perkuburan Sentosa

Oleh Drs. Akhmad Elvian, Kepala Dinas Budparpora Kota Pangkalpinang

Pada tahun 1935 Masehi, pada masa pemerintahan Residen Mann, CJ (memerintah pada tahun 1934-1942 Masehi)di Pangkalpinang mulai dibangun kompleks makam Cina Sentosa Pangkalpinang. Menurut prasasti pada tugu pendiri makam yang terletak di depan atau pada sisi barat Paithin yaitu rumah tempat sembahyang, kompleks makam ini didirikan oleh empat orang yaitu Yap Fo Sun wafat pada tahun 1972 Masehi, Chin A Heuw wafat pada tahun 1950 Masehi, Yap Ten Thiam wafat pada tahun 1944 Masehi dan Lim Sui Cian (tidak jelas tahun wafatnya pada masa pendudukan Facisme Jepang).

Kompleks makam Sentosa sekarang terletak di jalan Bukit Abadi di sisi Timur Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang, memanjang dari Utara ke arah Selatan dengan luas kompleks makam seluruhnya 199.450 m² (19,945 hektar). Sampai sekarang kompleks makam ini masih berfungsi, dengan jumlah sekitar 11.478 makam. Tanah pekuburan Sentosa sebelum dikelola Yayasan Sentosa awalnya merupakan sumbangan dari keluarga bermarga Boen, salah satu keluarga terpandang di Pangkalpinang pada waktu itu yang juga menyumbangkan tanahnya untuk pendirian kelenteng Kwan Tie Miau pada tahun 1841 Masehi yang terletak di Jalan Mayor H. Muhidin Pangkalpinang dan berdasarkan informasi dari keluarga Oen, juga menyumbangkan lahan untuk perkuburan Islam di Jalan Muntok (Jalan Depati Amir)..... --->> baca selengkapnya